Main Menu
Home
Slide Show
Promo HOT
Artikel HOT
Buku Tamu HOT
Peta Nasi HOT
Links
Hubungi kami
Pengunjung
Visitors: 16067
Promo

MAKAN GRATIS !! 

Daftar





Lost Password?
No account yet? Register
mengapa sebagian orang suka makan makanan pedes? PDF Print E-mail
(78 hits)
Orang-orang yang hidup di daerah beriklim hangat tertarik untuk mengonsumsi makanan berbumbu pedas karena makanan seperti itu menjaga tubuh tetap sehat. Begitu menurut seorang peneliti yang menggunakan pendekatan Darwinian dalam hal kesehatan.

"Pendekatan Darwinian didasarkan pada pertanyaan seperti Mengapa suatu hal menjadi seperti itu? yang merupakan pelengkap bagi pertanyaan Bagaimana sesuatu bekerja?" kata Paul Sherman, profesor neurobiology dan perilaku dari Universitas Cornell, Ithaca, New York.

Penelitian Sherman menunjukkan bahwa orang-orang wilayah yang lebih hangat mendapat manfaat dengan menyantap makanan berbumbu, karena rempah-rempah adalah zat anti kuman alami yang bisa membunuh atau mencegah pertumbuhan kuman. Sedangkan patogen (organisme merugikan) dan parasit dari makanan cenderung lebih mudah berkembang di daerah panas.

Ketika orang-orang di negara seperti Thailand misalnya, makan makanan berbumbu, kemungkinan untuk mengalami diare keesokan harinya akan lebih sedikit, dibandingkan dengan orang-orang di daerah sama yang menyantap makanan yang lebih hambar.

"Manusia cenderung melakukan hal-hal yang membuat mereka merasa lebih baik, dan mereka saling belajar," kata Sherman, sambil menambahkan orang-orang yang tinggal di daerah panas belajar bahwa makanan berbumbu lebih sedikit membuat mereka sakit, sehingga mereka lebih memilih makanan jenis itu.

"Mereka merasa lebih nyaman setelah menyantap makanan-makanan berbumbu, dan karena merasa nyaman, mereka mulai menyukai makanan jenis itu," Sherman menambahkan, "Kebiasaan ini kemudian ditularkan dari mulut ke mulut."

Sementara di daerah beriklim dingin seperti di Eslandia, sepotong steak yang didiamkan semalaman di luar akan menjadi beku. Udara dingin akan memperlambat pertumbuhan kuman, sehingga penggunaan rempah-rempah tidak diperlukan. Sebagai akibatnya, orang Eslandia cenderung menghidangkan makanan yang bagi lidah orang Asia terasa hambar.

"Tapi itu bukanlah suatu hal yang buruk. Mengapa harus menggunakan anti kuman jika memang tidak diperlukan," ujar Sherman.

Untuk membuktikan hipotesisnya tentang hubungan antara iklim dengan konsumsi makanan berbumbu, Sherman membandingkan resep dari sekitar 4.000 hidangan berdaging dan 1.000 makanan vegetarian di antara 36 negara.

Seperti yang telah diperkirakan, semakin hangat iklim di suatu tempat, lebih banyak resep berbumbu yang ditemui. Hidangan dari daging khususnya selalu dimasak dengan rempah karena daging kurang bisa melawan patogen dan parasit.

Ilmu Kedokteran Darwinian

Penelitian Sherman tentang rempah-rempah ini adalah bagian dari ilmu kedokteran Darwinian, sebuah pendekatan untuk menjawab pertanyaan "mengapa" berkenaan dengan fungsi tubuh, penyakit ringan, dan penyakit-penyakit lainnya.

"Jika Anda ingin memperbaiki sesuatu, sangat penting untuk mengetahui untuk apakah sesuatu itu ada," ungkap Sherman

Sebagai contoh, demam adalah bentuk pertahanan tubuh yang berkembang untuk melawan bakteri yang tidak diinginkan. Peningkatan suhu tubuh membuat parasit dan patogen semakin sulit untuk berkembang dan merangsang kerja sistem pertahanan tubuh.

Pengetahuan ini sangat berguna untuk mengatasi demam ringan, misalnya. Daripada meminum obat untuk menurunkan demam, barangkali lebih baik bagi pasien jika ia mengkonsumsi obat yang bekerja sama dengan demam untuk melawan parasit dan patogen.

Dalam penelitian selanjutnya, Sherman berencana untuk mempelajari bagaimana kecenderungan penggunaan rempah-rempah seiring dengan ketinggian suatu daerah. Ia memperkirakan, rempah-rempah akan lebih sedikit dipakai di daerah yang lebih tinggi dan beriklim kering dibandingkan dengan tempat yang lebih rendah, hangat, dan lembab, dimana bakteri lebih banyak ditemukan.


Sumber: nationalgeographic
 
< Prev   Next >